Jam alarm berbunyi sangat keras, membuat mukidi bangun dari tidurnya, dengan tubuh yang lemas ia menuju ke kamar mandi untuk berwudhlu, kemudian ia melakukan sholat subuh dan berdoa. Pagi petang yang masih sunyi, telah di hiasi dengan suara merdunya mukidi yang sedang membaca al quran. Beberapa menit kemudian air mata mukidi mengalir, teringat bahwa ayahnya baru meninggal 2 bulan yang lalu. Kini tinggal mukidi dan ibunya di rumah yang berdinding kayu.
Matahari sudah menampakkan wajahnya, terdengarlah suara ibu yang keras memanggilku, “di... mukidi kamu di mana?” mukidi menjawab “aku di kamar bu..”. “dasar anak malas, hidup jangan di kamar, cepat kerja sana!” dengan suara ibu yang semakin keras. Mukidi lalu ganti baju dan bergegas pergi bekerja. Pekerjaan mukidi sebagai tukang kayu di rumah tetangganya yang agak jauh, ia masih berumur 14 tahun dan tidak melanjutkan sekolah karenya ibunya menyuruh berhenti setelah ayahnya meninggal. Sifat ibunya yang sangat keras membuat mukidi sangat takut, ia sering di marahi, bahkan tetangga tetangganya juga takut dan menjauhinya. Itulah kenyataan yang di hadapi mukidi, ia selalu bersabar dan berdo’a supaya ibunya sadar.
Sore pukul 04:30 mukidi pulang dari pekerjaannya. Kemudian berwudhlu dan menjalankan sholat seperti biasannya. Ketika berdo’a tiba tiba ibunya memanggil dengan keras “di.. mukidi di.. mukidi, cepat kesini?”. “ya bu..” dengan suara mukidi yang halus. “cepat!” suara ibu yang lantang. Dengan agak ketakutan “ada apa bu?”. “ibu mau tanya, mana gajimu?”. Mukidi menjawab “inikan baru hari rabu, belom hari kamis”. Kata ibu “oooh iya, sini pijitin kaki ibu yang pegal pegal”. Kemudian ibu mengatakan sambil merasa nikmatnya di pijat, “ jadi anak itu becus kerja, yang rajin kerjanya, jangan malas malasan , biar gajinya banyak. jika kamu malas kerja, aku pukulin kamu sampai menangis, kamu mengerti kan?”. “ya bu.. aku mengerti” kata mukidi.
Suara qiro’ di masjid berkumandang. Ibunya mukidi menyuruh menyelesaikan pijatannya, kemudian mukidi berkata “bu.. saya pergi ngaji dulu yaaa...”. Ibu berkata “ya, setelah ngaji langsung pulang, jangan banyak bermain”
Setiap sore menjelang maghrib mukidi pergi mengaji dengan menaiki sepeda ke ponpes hidayah, dengan jarak 1 km dari rumahnya, mukidi termasuk anak yang kurang pandai dalam hal agama, tetapi ia selalu bertanya ketika ia tidak paham apa yang di terangkan gurunya. Mengingat kata kata ibu ia bergegas pulang.
Pagi pagi mukidi sudah tiba di tempat kerjanya. Dengan wajah yang agak lesu, bosnya telah melihat keadaan mukidi dan mengatakan “di... mukidi hari ini kamu kelihatannya kurang sehat , pulang saja istirahat ya..” . “nggak bos, aku nggak mau pulang sebelum sore” raut wajah pucat. Bos mukidi mengerti apa yang ia maksud “ya udah istirahat di sini aja samapai sore”. kemudian mukidi duduk istirahat sambil mengingat apa yang di katakan gurunya ketika ngaji “Bahwa ilmu itu sangat penting, siapa saja yang mempunyai ilmu dia akan di beri derajat yang tinggi, harta, tahta dan dunia akan mengikuti ilmu. Dan sebaliknya ilmu tidak akan mengikuti harta maupun dunia. Mukidi pun sadar bila ia tidak sekolah, maka kebodohan akan menetap padanya, kemudian di lubuk hatinya ada keiginan kuat untuk bersekolah lagi dan merubah hidunnya.
Matahari mulai tenggelam, mukidi bergegas pulang, dengan keyakinannya yang kuat, ia ingin berniat bersekolah lagi. mukidi mengucap salam “assalamualaikum” “ waalaikum salam” kata ibu. “Bu saya mau ngomong, tolong duduk di sini aku mau tanya “ kata mukidi. Ibu menjawab “ada apa?, apa mau ngasih uang gajian”. “ya...” Lalu keduanya duduk dan mukidi memberi uang gajiannya kemudian mengatakan “bu... ada yang mau aku omongin lagi”. “apa itu?” kata ibu. Dengan tubuh yang agak gemetar “saya mau sekolah lagi bu...”. dengan perasaan kaget ibu mengambil sandal dan memukulnya “apa untungnya sekolah hah.., apakah dengan sekolah kita bisa makan?, lihat ini uang apa, dari kerja kan?, bukan dari sekolah. Dengan keyakinan mukidi yang kuat “bu... apakah itu yang engkau lihat?, apakah itu untuk dirimu sendiri?, apakah ibu tidak memikirkan masa yang akan datang dan masa depanku?, bu.... dengan sekolah kita bisa merubah segalanya, dengan ilmu harta dunia kita bisa cari dengan mudah, lihatlah tetangga kita yang sukses, mereka bisa mencukupi kehidupan keluarga itu dengan ilmu, dengan belajar, dengan sekolah”. Plakkkk......tamparan yang sangat keras “siapa yang mengajarimu membantah atau sekolah yang mengajarimu membantah”. “Tapi bu.....”air mata mukidi mulai mengalir .Dengan telapak tangan, Plakkkk.... Mulut dan hidung mukidi berdarah . “sakit bu sakit..., kemudian ia lari kesakitan sambil menangis ke kamar, klekk... pintu kamar di tutup rapat dan di kunci. Lukayang di terima mukidi segera di bersihkan dan di obatinya. Mukidi menangis merasakan betapa sakitnnya tamparan yang di terimanya.
Ibu terdiam dan menatap telapak tangannya yang terdapat darah, pikirannya bingung, dan hatinya pun sadar “apa yang saya lakukan dengan anakku?, mengapa aku memukulnya sampai berdarah?, dia kan anakku satu satunya, jika dia tidak ada, siapa yang akan menemaniku?, maafkanlah saya anakku, selama ini saya tidak sadar , aku terlalu egois ”. kemudian ibu menghampiri mukidi “di.. mukidi tolong buka pintunya”. Mukidi hanya terdiam menangis dan merasakan sakit. Air mata ibu mengalir dan berkatav“ di... mukidi tolong buka, ibu minta maaf, telah menyakitimu selama ini, apa yang telah aku perbuat selama ini, padahal kamu anak penurut dan baik. dengan perasan yang takut mukidi membuka pintunya, kemudian ibu memeluk mukidi sambil menangis “ibu minta maaf nak”. “ya buu... aku yang salah telah membantah ibu” kemudian mukidi memaafkan ibunya. Ibunya sekarang membolehkan mukidi ber sekolah lagi, dan ibunya yang sebelumnnya tidak bekerja, sekarang akan bekerja keras untuk membiayai sekolah mukidi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar